Rabu, 13 Maret 2013

Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak


LINGKUNGAN PERKEMBANGAN ANAK

Latar belakang
Lingkungan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak. Ada tiga klasifikasi ligkungan perkembangan utama yang di kenal, yakni lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam konteks pendidikan,tiga macam lingkungan tersebut dikenal sebagai tripusat pendidikan.
Masing-masing lingkungan memberikan kontribusi tertentu terhadap perkembangan anak. Namun pengaruh dari masing-masing lingkungan tersebut tidak bisa dipilah-pilah secara pasti. Karena itu, yang terutama diperlukan disini adalah bukan menghitung persentase dan menentukan wujud pasti pengaruh dari masing-masing lingkungan tersebut, melainkan memahami proses-proses interaktif yang terjadi pada masing-masing lingkungan tersebut serta kemungkinan-kemungkinan pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
  1. Lingkungan Keluarga
a.      Pentingnya Peran Lingkungan Keluarga dalam Konteks Perkembangan Anak.
Sejak lama, keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan  utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak.
Dalam prakteknya, bagaimanapun pengaruh keluarga itu akan bervariasi. Hal itu tergantung kepada bentuk, kualitas, dan intensitas perlakuan yang terjadi, disamping tergantung pula kepada kondisi anak sendiri. Walaupun ada semacam prinsip-prinsip umum yang dapat dijadikan bahan rujukan oleh orang tua dalam memperlakukan anak, unsur keunikan anak tetap merupakan hal yang tidak dapat diabaikan.
b.      Pengaruh Keluarga terhadap Perkembangan Anak
Dilihat dari proses dan materi interaksi pada masing-masing lingkungan, secara logis dapat diperkirakan perilaku-perilaku apa yang terutama dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan dari pada lingkungan keluarga. Peran keluarga lebih banyak bersifat memberikan dukungan baik dalam hal penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif. Sebaliknya, dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenisnya, lingkungan keluarga bisa memberikan pengaruh yang sangat dominan. Selanjutnya, Radin (Seifert & Hoffnung, 1991) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yakni sebagai berikut :
1.      Pemodelan perilaku (modeling of behaviours)
2.      Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments)
3.      Perintah langsung (direct instruction)
4.      Menyatakan peraturan-peraturan (stating rules)
5.      Nalar (reasoning)
6.      Menyediakan fasilitas atau  bahan-bahan dan adegan suasana (providing materials and settings)
c.       Kualitas Hubungan orangtua-anak
Seiring dengan perubahan-perubahan yang dialami anak usia SD, pola dan bentuk hubungan orangtua-anak mengalami perubahan. Perlakuan orangtua lajimnya semakin memberi kesempatan kepada anak untuk berbuat secara lebih mandiri.
Pada masa usia kanak-kanak (pendidikan prasekolah), pengawasan orangtua terhadap anak menjadi kurang. Kecuali memainkan benda-benda yang dianggap membahayakan sepeti pisau dan gunting, orangtua biasanya sudah lebih banyak memberikan keleluasaan kepada anak.
d.      Gaya Pengasuh Orangtua dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan anak
Gaya pengasuhan orang tua (Parenting style) adalah cara-cara orangtua berinteraksi secara umum dengan anaknya. Dalam hal ini banyak macam klasifikasi yang dapat dilakukan, salah satunya adalah klasifikasi berikut : otoriter, permisif, dan otoritatif.

GAYA PENGASUHAN ORANGTUA
YANG OTORITER, PERMISIF, DAN OTORITATIF
Tipe
Perilaku Orangtua
Karakteristik Anak
Otoriter
Kontrol yang ketat dan penilaian yang kritis terhadap perilaku anak; sedikit dialog (memberi dan menerima) secara verbal; serta,kurang hangat dan kurang terjalin secara emosional.
Menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak dan tidak percaya terhadap orang lain.
Permisif
Tidak mengontrol; tidak menuntut; sedikit menerapkan hukuman atau kekuasaan; penggunaan nalar; hangat dan menerima.
Kurang dalam harga diri,kendali diri,dan kecendrungan untuk berekplorasi.
Otoritatif
Mengontrol; menuntut; hangat; reseftif,rasional;berdialog (memberi dan menerima) secara verbal; serta menghargai disiplin,kepercayaan diri,dan keunikan.
Mandiri;bertanggung jawab secara sosial;memiliki kendali diri,bersifat eksploratif,dan percaya diri

e.       Persoalan-persoalan Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak
1.      Orangtua yang Bekerja
2.      Orangtua yang Bercerai
  1. Lingkungan Sekolah
a.      Fungsi dan Peran Sekolah dalam Perkembangan Anak
Sekolah telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Selama kurang lebih lima sampai enam pada hampir setiap hari, umumnya anak-anak berada disekolah. Mereka berada disekolah bukan hanya hadir secara fisik, melainkan mengikuti berbagai kegiatan yang telah dirancang dan diprogram sedemikian rupa. Karena itu, disamping keluarga, sekolah memiliki peran yang sangat berarti bagi perkembangan anak.
Dilihat dari tuntutan perkembangan kehidupan ini, tampaknya memang hampir tak mungkin bagi sebuah keluarga untuk menyediakan suatu lingkungan yang dapat memfasilitasi segenap aspek perkembangan anak secara optimal tanpa dukungan sekolah.
Kegiatan utama anak di sekolah adalah mengikuti kegiatan pembelajaran yang sangat berkaitan dengan proses pengembangan kognisi anak. Dilihat dari kegiatan utama ini, yakni proses pembelajaran, secara logis kita akan mudah memahami bagaimana kontribusi sekolah dalam mengembangkan aspek kognisi anak.
b.      Perubahan Konteks Sosial di Sekolah
Sejalan dengan perkembangan anak, konteks sosial disekolah juga mengalami perubahan. Artinya konteks sosial pada level sekolah tententu berbeda dengan konteks sosial pada level sekolah lainnya. Sebagai konsekunsi dari adanya perbedaan kurikulum dan kultur sekolah, pada akhirnya tuntutan terhadap perilaku anakpun berubah pula. Kalau pada saat pra sekolah mereka lebih banyak diperlakukan secara informal dan banyak terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang sifatnya bermain, maka sekarang mereka dituntut lebih banyak mempelajari aspek-aspek akademik seperti baca, tulis, hitung dengan cara yang lebih formal.
c.       Struktur dan Iklim Kelas dan Sekolah
Struktur dan iklim kelas juga merupakan salah satu unsur pokok yang akan turut mewarnai perilaku anak. Struktur kelas dimaksudkan sebagai pola-pola hubungan yang dikembangkan dalam proses interaksi atau aktivitas kelas, sedangkan iklim kelas menyangkut suasana sosioemosional yang berkembang dan dialami oleh anggota kelas, khususnya anak, disaat kegiatan kelas berlangsung. Keterkaitan antarastruktur dan iklim kelas sangat erat. Maksudnya, struktur atau pola hubungan yang diciptakan guru dikelas akan sangat menentukan suasana interaksi yang dialami oleh anak.
d.      Karakteristik dan Penampilan Guru
Sebagaimana halnya orang tua dirumah, Guru memegang peran yang sangat sentral dalam menciptakan suasana sekolah dan kelas sebagaiman dideskripsikan diatas. Ia merupakan figur utama bagi anak-anak disekolah. Karena itu, bukan saja cara dan kemampuan guru dalam mengajar yang akan mempengaruhiprilaku dan perkembangan anak, melainkan keseluruhan pribadi dan penampilan guru. Seorang guru yang berprilaku agresif, tegang, dan/atau diliputi oleh banyak kecemasan, misalnya akan lebih cenderung untuk memunculkan suasana kelas yang menegangkan dan mungkin membingungkan anak. Sebaliknya guru yang berpenampilan tenang, antusias, respek, dan responsif terhadap anak akan lebih memungkinkan untuk dapat menciptakan suasana sekolah dan kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran.
  1. Lingkungan Masyarakat dan Pengaruh Media Informasi
Masyarakat tempat anak-anak hidup dan bergaul dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya juga merupakan lingkungan perkembangan yang memiliki peran dan pengaruh tertentu dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Disana mereka bergaul, disana mereka , lihat orang-orang berprilaku, disana mereka menyaksikan berbagai peristiwa, dan disana pula mereka menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman interaksional anak pada masyarakat ini akan memberi kontribusi tersendiri dalam pembentukan prilaku dan perkembangan pribadi anak.
Kalau dihubungkan dengan lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat itu bisa mendukung apa yang dikembangkan dirumah dan di sekolah. Selanjutnya perlu dipahami pula bahwa berbeda dengan kasus keluargadan sekolah, dilingkungan masyarakat susah menentukan siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab. Dirumah, orangtua bisa didudukan sebagai orang yang paling bertanggung jawab : disekolah guru bisa diposisikan sebagai orang yang paling bertanggung jawab : imasyarakat, siapa penanggung jawabnya ? kalaupun dimasyarakat itu ada tokoh masyarakat, tokoh agama, ada penguasa, dan semacamnya : namun posisi mereka angat berbeda dengan orangtua dirumah dan guru di sekolah. Karena itu pada akhirnya tanggung jawab itu akan kembali kepada keluarga masing-masing dan individu masing-masing yang hidup disana. Baik tidaknya lingkungan masyrakat akan tergantung oleh keluarga-keluarga yang membangun masyarakat yang bersangutan. Selanjutnya berkenaan dengan kehidupan di masyarakat ini ada dua hal pokok yang secara khusus akan diuraikan secara lebih lanjut,yakni berkenaan dengan pergaulan dengan teman sebaya (anak tetangga) dan pengaruh media informasi yang akhir-akhir ini mencemaskan banyak orang tua.
a.   Pergaulan dengan teman Sebaya (Anak tetangga)
Sebagaimana diungkapkan, bahwa memasuki usia SD anak semakin berminat terhadap teman sebayanya dan dengan sendirinya akan mengurangi kesempatan berinteraksi dengan orangtuanya. Mereka akan membangun suatu komunitas dan lingkungan “masyarakat” sendiri yang tentunya berbeda dengan komunitas orangtua. Artinya mereka memiliki harapan-harapan sendiri, kultur sendiri, dan memiliki kepentingan sendiri yang berbeda dari apa yang dimiliki oleh orangtua.
            Dalam menghadapi gejala prilaku anak diatas ada beberapa hal yag sangat diperlukan oleh orangtua. Pertama adalah kesadaran orangtua bahwa anaknya sedang terus berkembang. Kedua adalah perlunya kerjasama yang saling menguntungkan diantara orangtua anak yang bertetangga. Mereka hendaknya saling berkomnuikasi, saling memberi informasi, dan saling memperhatikan anak.
b.   Menjaga Anak dari Pengaruh Negatif Media Informasi
Unsur hiburannya yang semakin banyak membuat anak-anak tampak semakin akrab dengan tayangan-tayangan televisi. Dibanding dengan jam belajarnya dirumah, jumlah jam untuk nonton TV umumnya jauh lebih banyak. Sayangnya tidak semua tayangan-tayangan tontonan itu cocok untuk ditonton oeh anak. Beberapa diantaranya bahkan ada yang bisa berpengaruh negatif terhadap perkambangan anak. Bukan hanya jam belajrnya yang berkurang,tetapi lebih parah lagi dapat merangsang berkembangnya prilaku-prilaku negatif pada anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar